728x90 AdSpace


  • Terbaru

    Rabu, 19 Juni 2013

    Ini Dia Kesalahan-kesalahan Berbahasa yang Sering Digunakan Remaja


    Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi yang digunakan oleh negara kita tercinta. Tak hanya itu, bahasa Indonesia difungsikan sebagai bahasa pemersatu, bayangkan saja jika tidak ada bahasa yang berkedudukan seperti bahasa Indonesia di negara kita, kita telah sama-sama tahu bahwa negara Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dan bahasa yang berbeda-beda, tentu dibutuhkan sebuah bahasa pemersatu, agar kita sebagai kelompok dengan bahasa yang berbeda-beda tersebut terjembatani oleh satu bahasa resmi yang telah disepakati, yakni bahasa Indonesia, bahasa negara, bahasa penghubung untuk semua kelompok masyarakat di negara ini.

                Nah, selain hal di atas, secara alur sejarah juga menunjukkan bahwa bahasa Indonesia dibentuk berdasarkan kajian yang matang dan tidak secara serampangan. Bahasa Indonesia memiliki semacam keterwakilan karakter Melayu, Jawa, Sumatra, Sunda, dan berbagai komunitas bahasa yang ada di negara Indonesia. Semenjak tahun 1928, melalui peristiwa “Soempah Pemoeda” bahasa Indonesia resmi dikukuhkan sebagai salah satu identitas penting pemersatu bangsa. Jadi jelas sekali, bahwa keberlangsungan bahasa Indonesia sangat terkait erat dengan keberadaan bangsa Indonesia secara keseluruhan, jika bahasanya rusak, maka bagaimana juga nasib bangsa Indonesia sebenarnya?

                Keberlangsungan tradisi berbahasa Indonesia dengan baik memang berputar pada beberapa hal, di antaranya adalah generasi penerus bangsa (remaja dan pelajar), kurikulum pendidikan bahasa (pemerintah), media massa dan hiburan (televisi), juga desakan bahasa asing. Dalam hal ini, remaja dan pelajar sebagai generasi penerus bangsa menduduki posisi penting dan paling berpengaruh, sebab kajian terhadap tradisi berbahasa mereka dapat dijadikan sebagai poros yang dapat menghubungkan satu sebab ke sebab lain, semisal apakah kita –remaja- menggunakan tradisi berbahasa yang kurang baik tersebut dilakukan dengan kesengajaan –tuntutan trend-? Atau memang karena ketidak-tahuan karena dunia pendidikan sudah tak lagi menjangkau tentang hal tersebut?.

                Berikut adalah kesalahan berbahasa Indonesia baik dalam penulisan maupun pengucapan yang biasa ditemukan di kalangan remaja Indonesia, data ini merupakan hasil pengamatan dan survei yang dilakukan oleh JINGGA Media | Pusat Analisis Data dan Pengembangan Media Komunitas. Riset dan pengambilan data dipusatkan pada kecenderungan penulisan remaja dalam akun sosial media (Facebook dan Twiter), serta pada penulisan resmi dalam tugas sekolah di beberapa lembaga pendidikan, karena tradisi berbahasa memang harus tetap dipahami pada dua ruang penggunaan, yakni bahasa baku dan bahasa tutur. Dan yang menjadi pengamatan peneliti adalah penggunaan bahasa baku untuk tugas-tugas resmipun masih cenderung ditemukan banyak kesalahan, hal ini karena didukung oleh kebiasaan penulisan dan pengucapan bahasa Indonesia yang kurang baik. Kesalahan tersebut antara lain;



    Mempersingkat penulisan

    Tradisi penulisan seperti ini mulai ditemukan bersamaan dengan munculnya teknologi pesan singkat di telepon seluler, kita biasa menyebutnya SMS (Short Message Service), penulisan singkat pada mulanya ditujukan dalam rangka mengurangi biaya yang akan dibebankan kepada para pengguna berdasarkan  panjang pendek kalimat yang ditulisnya. Namun lama-kelamaan tradisi penulisan ini menjadi kewajaran tanpa sadar meskipun sudah memasuki ruang yang berbeda, artinya beban penggunaan sudah tak lagi menjadi poin penting dalam ruang penulisan tersebut, misalnya dalam akun sosial media, terlebih lagi dalam tugas resmi sekolah. Maka tak asinglah sebuah penyingkatan kata “dengan” menjadi “dg”, ataupun yang sampai menemukan bentuk perubahan pada akhir katanya, seperti penulisan kata “kalau” menjadi “klo”.

                Lagi-lagi, hal tersebut tentu sangat memrihatinkan jika dalam kenyataannya sampai ditemukan dalam penulisan yang bersifat resmi, semisal dalam tugas sekolah, pengumuman, surat-menyurat, dan lain-lain.



    Menyertakan angka sebagai ganti dari huruf

    Pernahkah teman-teman membaca atau bahkan menuliskan sebuah kata dengan mengganti salah satu hurufnya menggunakan angka? Semisal menulisakan kata “sekolah” dengan “sek0lah”, atau kata “rumah” menjadi “rum4h”. Hal tersebut adalah kecnderungan berikutnya yang biasa ditemukan dalam dunia remaja. Penulisan tersebut tentu bukan bagian penulisan bahasa Indonesia yang baik, dan juga akan membawa dampak kesulitan jika harus berhubungan dengan seri penulisan-penulisan resmi karena hal tersebut telah terlanjur menjadi kebiasaan.



    Membesar-kecilkan huruf dalam sebuah kata

    Kebiasaan penulisan seperti ini juga kerap dan biasa dengan mudah kita temukan. Panduan penulisan huruf kapital dalam sebuah kalimat diabaikan. Kebiasaan penulisan seperti ini memang dampak lanjutan dari pembahasan sebelumnya, naifnya, hal ini juga kerap tanpa sadar terbawa ke dalam seri penulisan bahasa resmi. Jadi, mulai sekarang biasakanlah menulis dengan panduan huruf kapital yang teratur, tiDak BolEh mEnulISkannYa sePerti Ini.

                Selain hal di atas, penggunaan huruf kapital yang tidak teratur juga tidak hanya ditemukan dalam penulisan sebuah kata. Dalam menuliskan kalimatpun panduan penggunaan huruf kapital yang baik harus selalu diperhatikan, biasanya, teman-teman menuliskan sebaris kalimat dengan membubuhkan satu kata yang khusus dituliskan seperti ini;

    “Hari ini saya TIDAK bolos lagi”.

    Mungkin penulisan tersebut dengan tujuan memberikan sebuah penekanan khusus dalam kata “tidak”, akan tetapi dalam tradisi penulisan bahasa Indonesia yang baik hal itu kurang diperkenankan. Penulisan dan penggunaan huruf kapital sudah dibakukan untuk beberapa hal, di antaranya adalah penulisan huruf pada awal paragraf, penulisan huruf setelah titik, penulisan judul, nama orang, nama kota, singkatan resmi, dan lain sebagainya.



    Menambahkan huruf

    Untuk yang satu ini, kita bisa menemukannya saat teman-teman menuliskan kata “semua” dengan bentuk “semuah”, kata “rapi” dengan “rapih”, atau menuliskan kata “silakan” dengan “silahkan”. Mulailah dari sekarang untuk lebih mengakrabi penulisan yang sesuai dengan seri penulisan resmi bahasa Indonesia. Hal ini juga bisa dilakukan dengan sering-sering memeriksa kata per-kata melalui KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau teman-teman memeriksanya melalui fasilitas online yang telah tersedia di sini.



    Mengganti penulisan suku kata resmi

    Menuliskan kata “aku” dengan kata “aqu” atau bahkan dengan satu huruf “q” merupakan sesuatu yang terbilang lumrah sekarang ini. Atau pada penulisan kata “kita” menjadi “qta”, dan lainnya. Penulisan seperti ini akan berimbas sama dengan poin-poin pembahasan di atas, jangan-jangan kita akan mengalami kesulitan saat memasuki seri penulisan bahasa resmi karena sudah terlanjur menjadi kebiasaan.



    Memisahkan kata imbuhan

    Kebiasaan berikutnya adalah menuliskan imbuhan secara terpisah sedangkan dalam ragam bahasa resmi penulisan tersebut dituntut untuk disatukan. Seperti saat kita menuliskan kata ganti “nya”, beberapa kali kita menemukan teman-teman menuliskannya secara terpisah seperti ini “sekolah nya”. Kecenderungan ini biasa ditemukan dalam penulisan cerita pendek atau karangan bebas pada tugas-tugas pelajaran bahasa Indonesia di sekolah.



    Menyamakan penulisan kata “di” dalam fungsi yang berbeda

    Dalam menuliskan kata “di” banyak teman yang memiliki kebingungan penempatan dan bagaimana menuliskannya dengan baik sesuai dengan ragam bahasa resmi, atau bahkan ada beberapa teman pelajar yang sama sekali tidak mengetahuinya. Melalui tulisan ini saya akan memberitahukan sedikit tips agar teman-teman semua mampu menuliskannya secara benar. Kuncinya adalah: Jika kita ingin menuliskan kata “di” yang menunjukkan tempat (di mana?) maka penulisannya harus dipisah “di sini”, sedangkan jika menuliskan “di” yang menunjukkan makna sebuah proses (diapakan), maka kita harus menuliskannya dengan digabung, seperti kata “diperbaiki”.



    Penggunaan tanda baca

    Penggunaan tanda baca seperti tanda seru (!) dan tanda tanya (?) sepertinya menjadi trend sendiri sekarang ini. Hal ini pada mulanya bertujuan untuk memberikan tekanan atau memancing respon pembaca, terutama dalam tradisi penulisan di akun sosial media. Hanya saja terkadang teman-teman melupakan bahwa kode etik di internet tanda baca (!) memiliki kedudukan yang setingkat dengan penulisan huruf kapital, yakni menunjukan volume suara tinggi atau bahkan menyentak. Atau teman-teman kerap menuliskan tanda baca “?” pada kalimat yang tidak berbentuk tanya.



    Menggunakan karakter atau huruf asing

    Untuk hal yang satu ini memang didukung oleh teknologi penulisan melalui telepon seluler, komputer, atau akun sosial media tertentu. Kita akan mudah menemukan penulisan menggunakan karakter asing se[erti berikut:

    Sekol@h, s£kolah, sekolαh, lain x, sekolãh, ©inta. Pada huruf-huruf yang tercetak tebal tersebut merupakan simbol yang tidak terdapat dalam abjad resmi bahasa Indonesia, biasanya, hal itu berasal dari karakter bahasa asing, istilah kimia dan matematika, dan lain sebagainya.



    Penulisan Bunyi

    Terakhir, penulisan bunyi memang tidak begitu menjadikan perhatian lebih dalam penulisan ragam bahasa resmi di Indonesia. Akan tetapi, cobalah untuk memulai kebiasaan menuliskannya sesuai dengan panduan resmi berbahasa, seperti halnya menuliskan suara tertawa dengan kata wkwkwkwk, atau yang lainnya. Dalam penulisan bahasa Indonesia yang baik kita harus menuliskan perubahan bunyi kepada penulisan bahasa yang lebih jelas, maka tulislah bentuk suara dalam tulisan dengan “hehe”, atau “haha”.

                Seperti itulah kiranya teman-teman, mari kita tertibkan kembali tradisi berbahasa kita, karena bahasa adalah ruh negara yang kita cintai. Kalau bukan kita, siapa lagi? Salam.





    *Penulis adalah Staff Direktur Pusat Data, Riset, dan Publikasi JINGGA Media, serta pendamping rubrik bahasa di madingsekolah.net

     Mading Sekolah








    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 komentar:

    1. Awak ... kiter selalu baca blog awak tau ....
      boleh kiter tau nama awak ? .. maaf tanya terbuka camnie ...
      admire penulisan awak jer... :)

      BalasHapus
    2. Asih Dewayanti4 Oktober 2014 19.52

      Mau tau cara menghancurkan sebuah bangsa? Ya dg menghancurkan bahasanya.

      BalasHapus

    Item Reviewed: Ini Dia Kesalahan-kesalahan Berbahasa yang Sering Digunakan Remaja Rating: 5 Reviewed By: Jingga Media
    Scroll to Top