728x90 AdSpace


  • Terbaru

    Sabtu, 31 Agustus 2013

    [Peserta Lomba Menulis Surat] Rasa Putus Asa Perusakmu

    Kepada; Indonesiaku.


                Indonesia, aku pelajar berumur tujuh belas tahun. Namaku Fidya. Telepon selulerku pernah dijambret orang ketika aku sedang duduk di bajaj untuk pergi ke tempat les. Sesaat, jantungku terlonjak, terkejut, ketika tangan itu merebut telepon selulerku. Tiba-tiba saja tangan itu hilang, dibawa sebuah sepeda motor yang melaju sangat kencang. Kemudian aku berteriak. Aku ingin menangis, tetapi aku harus tetap kuat dan sabar. Aku turun dari bajaj. Kurasakan getar pada kakiku, dan air mata yang telah menggumpal di kelopak mata. Aku ingin marah, tetapi tidak ada yang bisa aku marahi; kecuali diriku sendiri. Betapa bodohnya aku menggunakan telepon seluler di bajaj. Betapa bodohnya.


                Sesaat, hancur sudah kepercayaanku, kepada semua orang miskin yang menurutku bisanya hanya menyulitkan orang-orang kaya. Hancur sudah kepercayaanku kepada mereka, orang miskin yang bisanya hanya memperburuk keadaan perkotaan dengan slum area yang mereka buat. Tetapi kemudian, seorang Bapak miskin mendekatiku, dan bertanya, “Ada apa, Dek?”


                Dengan panik, aku mengatakan kepadanya bahwa telepon selulerku dijambret. Aku mengatakan, semua data-datanya masih ada di sana dan aku takut data-data itu disalahgunakan. Kemudian, Bapak itu menyuruhku minum seteguk air, dan meminjamkan telepon rumahnya untuk aku mengabarkan Ibuku. Kemudian, aku merasa tertolong. Aku meminta maaf kepada Tuhan karena telah mengutuki mahkluk-mahkluknya karena perbuatanku sendiri. Kemudian, aku pulang pada akhirnya. Dengan jantung yang terlonjak, dan semua rasa yang seharusnya bisa kulakukan saat telepon seluler itu direnggut dariku.


                Indonesiaku, terkadang aku begitu membenci dirimu. Membenci kesemrautan bahasamu, membenci kesemrautan sistemmu, membenci uang yang telah direnggut darimu, membenci semua tradisi yang telah direnggut darimu, membencimu.


                Tetapi sekarang, aku mengerti perasaanmu. Bagaimana alam ini berbicara untuk menghentikan kekacauan yang ada padamu. Bagaimana telah ditumpahkan air hujan untuk membanjiri rusaknya sebuah kota. Bagaimana telah ditumpahkan air laut untuk menelan habis sebagian pulau. Aku mengerti. Kau ingin semua kekacauan bisa berubah menjadi keindahan. Tetapi apa daya. Kau hanya sebatas tanah, hanya secercah lautan, hanya segumpal angin. Walaupun tanahmu itu subur, lautmu jernih, dan anginmu sejuk, kau tahu bahwa semua itu telah direnggut oleh kami; penduduk-pendudukmu.


                Dan bagaimana bisa aku dan semua orang yang membenci Indonesia ini menyalahkanmu? Ketika seharusnya kami menyalahkan diri sendiri?


                Semua hal bisa dilakukan ketika suatu suasana telah berubah menjadi kekacauan. Saat aku kehilangan gebetanku yang direbut sahabatku sendiri, aku bisa berfikiran untuk menjenggut rambutnya dan menjedotkan kepala perempupan perebut gebetan orang itu ke tembok, hingga dia mendapat ganjarannya. Dan begitu juga semua orang, begitu juga si jambret. Kami ini berada di kekacauan yang kami buat, dan kami juga yang ingin cepat-cepat keluar dari kekacauan ini. Namun kami tidak bisa secepat itu mengatasi kekacauan kami, dan itulah sebabnya kami terus menyalahkan keberadaan kami di atas tanah suburmu ini, Indonesiaku.


                Aku hanya bisa meminta maaf. Maaf telah memanggilmu “Negara miskin.”


                Maaf telah memanggilmu “Negara korptor.”


                Maaf telah percaya pada segenggam pikiran jahat yang mengaggapmu jelek.



    Dan aku tahu. Kami semua tahu. Bahwa sebenarnya, Indonesia kami itu kaya, Indonesia kami itu jujur, Indonesia kami itu Indah. Dan kami hanyalah manusia yang membuat kekacauan di atas tanah suburmu, merusak angin sejuk dan air jernihmu, jadi tak ada kata lain yang palig bagus untuk kami berikan kepadamu, selain maaf dari hati yang tulus penuh cinta kepadamu, Indonesia.


    Kami pembuat kekacauan, suatu saat akan berhenti merusakmu. Ingatlah selalu, bahwa dulu kami itu suci terlahir di atas tanahmu. Dan kami akan berusaha untuk kembali mensucikan diri kami dari kekacauan yang telah kami buat.



    Indonesiaku,


    Janganlah berhenti percaya kepada kami. Kami akan berubah.




    Jakarta, 31 Agustus 2013



    Fidya Zahra Afifah


    SMAN 26 Jakarta - DKI Jakarta



    Info lengkap lomba silakan klik di sini



    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    10 komentar:

    1. Tulisan yang menarik

      BalasHapus
    2. Jones dijambret wkwkwkkwkwkwk, bagian terlucu :3, tapi sisanya lumayan bagus, good luck ya Fidy <:D
      -azzam

      BalasHapus
    3. keren banget tulisannya! aku suka banget sama penghayatannya!

      BalasHapus
    4. mengharukan ihhh ceritanya ::((((( penghayatannya kece bgttttt. smg menangggg!::)))

      BalasHapus
    5. Go...go...fidi....so touch....

      BalasHapus
    6. aku suka banget ceritanya.. love this..

      BalasHapus
    7. Banyak hikmah yg bisa diambil ya ternyata... Good job fidya! Semangat!

      BalasHapus
    8. Luqyana MZ Yahya8 September 2013 02.13

      Perpaduan kata-kata yang merangkai surat ini patut diacungi jempol. Asik, lucu, anak sekolah banget, tapi disisi lain juga bisa ngebuat pembaca berfikir kalo Indonesia bisa lebih baik untuk kedepannya dan itu harus dimulai dari diri rakyatnya sendiri. Good job Fidy! :)

      BalasHapus
    9. Luqyana MZ Yahya8 September 2013 02.16

      Perpaduan kata-kata yang dipake buat bikin isi surat ini patut diacungi jempol. Isinya asik, menarik, anak sekolah banget, tapi disisi lain juga bisa membuat para pembaca sadar kalo Indonesia bisa menjadi negara yang lebih baik kedepannya. Good job, Fidy! :)

      BalasHapus
    10. Isinya menarik, good job fidyyyy!

      BalasHapus

    Item Reviewed: [Peserta Lomba Menulis Surat] Rasa Putus Asa Perusakmu Rating: 5 Reviewed By: Jingga Media
    Scroll to Top