728x90 AdSpace


  • Terbaru

    Senin, 02 September 2013

    [Peserta Lomba Menulis Surat] Perbedaan Yang Disia-siakan

    Kepada; Indonesiaku.


                Perkenalkan! Aku pelajar berumur tujuh belas tahun. Namaku Fidya. Berkali-kali aku menolak untuk mempercayai adanya kekerasan karena pluralism di atas tanahmu, Indonesiaku. Dari ujung Sabang sampai ujung Merauke tertanam sudah flora-flora yang beragam dari berbagai jenis kondisi alam. Dari ujung Sabang sampai ujung Merauke juga telah tersebar berbagai fauna unik yang menghiasi tanahmu, Indonesiaku. Bukankah dari zaman dulu Engkau sudah terbiasa dengan perbedaan?


                Kemudian datanglah aku dan suku-suku manusia lainnya untuk tinggal di atas tanah suburmu. Dari Sabang hingga Merauke, manusia-manusia sepertiku hidup dengan damai mencintai setiap tetes rintik hujan, mencintai setiap hembus angin, mencintai setiap hal yang bumi pertiwi berikan kepada kami. Aku dan manusia-manusia lainnya pada hakikatnya hanya berkeinginan untuk bahagia. Aku dan manusia-manusia lainnya hanya berkeinginan untuk berakhir dengan tenang, penuh rasa diberkati. Suku-suku kami pun dari zaman dahulu telah mengerti apa itu arti bahagia dan kami pun tahu bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan masing-masing. Dan kami telah hidup di atas bumi pertiwi ini dengan damai.


                Indonesiaku, ingatkah bagaimana kami mulai menjadi manusia-manusia yang pintar? Yang mengetahui keberadaan Tuhan?


                Ibu guruku bilang, manusia itu mempunyai cara pikir yang beragam. Keragaman itu bisa menimbulkan konflik. Tetapi ketika keragaman itu telah disatukan dengan Pancasila, mengapa kita tak berhenti bertarung jua?


                Indonesiaku, sekali lagi aku katakan bahwa pada hakikatnya kami hanya ingin berbahagia. Puji Tuhan telah kau izinkan Pancasila menyatukan keragaman ini. Tetapi seraya alam beranjak dewasa, seraya darah di dalam bumi ini memanas, telah datanglah manusia-manusia Indonesia yang pemarah. Manusia-manusia yang memutar-balikan fakta dengan tindakan terror yang merenggut kedamaian hati dari dalam diri kami. Manusia-manusia itu membakar rumah kami. Manusia-manusia itu membakar daging-daging saudaranya sendiri. Manusia-manusia itu melukis jantung mereka dengan segala kebencian. Kebencian akan apa? Akan variasi yang ada.


                Indonesiaku yang malang, tentu Engkau mengizinkan segala jenis Manusia untuk berkuasa di atas tanahmu. Telah Engkau berikan bahasa yang satu agar kami bisa bekerja sama, bukan bertengkar. Tetapi sungguh aku menolak untuk percaya bahwa ada manusia-manusia yang membenci kekayaan budayamu, kekayaan adatmu, dan kekayaan kepercayaanmu.


                Manusia Indonesia yang baik hati, kau tahu di dalam jantungmu yang berdetak, di dalam kitab-kitabmu yang kau baca, kami semua hanya berkeinginan untuk bahagia. Kebahagiaan itu diraih dengan kedamaian bukan? Untuk apa kau berebut untuk membuktikan kebanaran akan kepercayaanmu, kebenaran akan kitab-kitab yang kau baca di saat semua kebaikan telah ditulis di dalam kitab-kitabmu masing-masing? Apa yang harus diperdebatkan?


                Sahabatku sedarah dan sedaging, jika kau menginginkan kebahagiaan yang sama, berhentilah memaksakan apa yang harus orang lain percaya. Kita itu satu. Kita itu tumbuh bersama. Wajar jika ada perbedaan. Indonesia ini layaknya sebuah paduan suara yang indah yang memiliki berbagai macam suara, mulai dari bass, baritone, tenor, alto, mezzo, hingga soprano. Dan masing-masing suara itu indah bunyinya. Masing-masing karakteristik kita itu Indah dipandang. Jadi janganlah kita menjatuhkan kebahagiaan orang lain karena menganggap keberadaan mereka itu tidak sama dengan kita.


                Untuk itu sekali lagi aku menolak untuk mempercayai bahwa bangsa ini saling menghancurkan diri masing-masing karena perbedaan yang ada disekitarnya. Kata ibuku, jika orang ingin dihormati, maka ia harus menghormati orang lain. Jika orang tidak menghormati orang lain, maka orang itu tak akan dihormati juga oleh orang lain.


                Sahabat Indonesiaku, ingatlah selalu bahwa perbedaan itu indah.


     Jakarta, 1 September 2013


    Fidya Zahra Afifah


    SMAN 26 Jakarta - DKI Jakarta


    Info lengkap lomba silakan klik di sini

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    4 komentar:

    1. bagus bgt kak! keren dehhh

      BalasHapus
    2. bagus kak ceritanyaa!! semoga menang yaa..

      BalasHapus
    3. Luqyana MZ Yahya8 September 2013 02.04

      Bagus banget surat ini! :) Penggunaan bahasa yang kompleks tetapi tetap mudah dimengerti khususnya untuk para pelajar. Pesan yang disampaikan juga kena banget. Keren! Goodluck Fidy! :)

      BalasHapus
    4. Bagus fidd, goodluck yaaah!:D

      BalasHapus

    Item Reviewed: [Peserta Lomba Menulis Surat] Perbedaan Yang Disia-siakan Rating: 5 Reviewed By: Jingga Media
    Scroll to Top