728x90 AdSpace


  • Terbaru

    Senin, 02 September 2013

    [Peserta Lomba Menulis Surat] Tak Sekokoh Dulu

    Teruntuk Negriku Tercinta,


    Selamat atas bertambahnya usia ke-68 tahun negeriku tercinta. Di hari jadimu ini ku yakin kau masih menyimpan begitu banyak mimpi dan angan yang sekian lama menjadi serpihan-serpihan kecil di sudut-sudut hutan yang gundul dan di relung sungai yang mengering. Aku tahu harapmu begitu besar padaku. Tapi ah, maafkan aku tak kuasa mengantarmu menggelar mimpi dan anganmu dalam nyata.


    Di usiamu yang mulai renta ini, bebanmu kian berat membungkukkan punggungmu. Beban yang seharusnya dipikul bersama, tetapi realitasnya justru “jauh panggang dari api”. Bahkan kapasitasnya menguat dengan bebanan korupsi, disintegrasi, anarkis, dan saling curiga. Aku tak mengerti. Mengapa mereka tega berbuat demikian di saat kau merintih dan memohon kepada mereka untuk mempertahankan negri ini.


    Bukan sekadar radio, televisi, internet atau transistor modern apa saja. Aku melihat dengan mata kepasla sendiri keserakahan mereka: Merampas hak orang lain dan merampok negara. Mereka adalah orang-orang kejam yang pernah kutemui di dunia ini. Mereka rela mengorbankan saudara mereka hanya untuk kebahagiaan mereka sendiri. Mengorbankan segalanya demi uang. Bahkan merka juga mengikis habis semua yang kau punya kepada negara asing. Apa kau pernah marah kepada mereka?. Apa kau pernah memaki mereka seperti mereka memakimu? Mengapa mereka begitu kejam kepadamu? Apa salah mereka? Katanya kau adalah “negeri surga dunia” yang makmur dan sejahtera. Tapi mengapa masih banyak rakyatmu yang menjerit-jerit kelaparan?. Masih banyak rakyatmu yang menangis dan merintih, apakah kau masih layak menyandang gelar “negeri para dewa” ?.  Bagi para pembesar negeri ini Kau memang pelabuhan emas yang beraroma surga. Tapi bagi saudara-saudaraku di pinggir sana, adalah “limbah bususk”. Bukankah itu tidak adil?. Dan itu semua karena mereka!.


    Indonesiaku “Tanah Air Beta” yang kokoh terbangun batu-baja. Haruskah rapuh tergerogoti mental-mental tikus yang menghisap bangsanya sendiri?. Aku tidak membayangkan jika pondasi itu akan terus digerogoti orang-orang serupa yang kian hari kian menjadi banyak. Dan yang paling mengerikan adalah negeri ini tak lagi jadi negeri yang bermartabat dan diperhitungkan bangsa lain.


    Jujur aku sangat muak dengan apa yang telah mereka lakukan kepadamu, kepada rakyatmmu dan kepada kita semua!. Namun apalah dayaku yang hanyalah seorang remaja yang tidak mampu berbuat banyak untukmu. Maafkan aku Indonesiaku, maafkan aku! Dalam hati aku selalu bertanya mahluk apakah yang telah merasuki mereka? Terlalu sedikitnya rasa belas kasihan di hati mereka sehingga begitu kejamnya mereka memperlakukan dirimu dan rakyatmu. Aku juga sangat muak dengan bualan mereka, bualan para penipu yang sedang menyamar sebagai para pahlawan penyelamat bangsa. Mereka tega membohongi kita semua dengan rayuan dan janji-janji mereka! Mereka bilang mereka akan menjadikanmu negeri yang adil dan makmur, menjadikan rakyatmu sejahtera. Tetapi apa lacur? Mereka justru menghancurkanmu, mereka mengambil hak rakyat demi kepentingannya! Apakah orang-orang yang  telah menyengsarakan rakyat masih pantas disebut sebagai pemimpin? Hanya demi menimbun pundi-pundi rupiah mereka jadi lupa kepadamu, lupa akan tanggung jawabnya, lupa kepada rakyatmu! Mereka merampas hak rakyat dan menerlantarkannya. Mereka tersenyum melihat rakyatmu menderita! Bukankah itu perbuatan yang sangat tidak manusiawi? Bahkan mereka jauh lebih mencintai “rupiah” daripada mencintaimu!


    Implikasinya, kini Kau tak sekokoh yang dulu. Banyak pondasi yang telah rapuh. Teposliro, jujur, kearifan, sumber daya alam, dan satu lagi patriotisme. Semuanya roboh tanpa tepi. Hanya serpihan-serpihan harapan yang menjadikan penggalan-penggalan fragmen yang diprogramkan depertemen dan dibahas di parlemen. Terkadang semua itu tinggallah tontonan dalam drama tanpa babak dan tanpa solusi. Ah, sedih sekali. Ya Allah kokohkanlah kembali negeri 1000 pulau ini. Negeri yang dulu dibangun oleh putra bangsa yang cerdas, jujur, patriot, dan religius. Negeri yang diidamkan banyak bangsa.


    Wahai Indonesiaku. Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya engkau saat membaca suratku ini. Maafkan aku yang membuatmu sangat kecewa dan terpukul atas apa yang kutuliskan untukmu di secarik kertas ini. Tetapi aku mohon jangan pernah kau merasa sendiri karena masih ada aku dan generasi penerus bangsa yang masih peduli dan mencintaimu apapun keadaanmu. Suatu saat nanti kami akan membuatmu berdiri tegak kembali, melepaskanmu dari beban yang selama ini membelenggumu, menyembuhkan segala lukamu, mewujudkan semua cita-cita dan impianmu selama ini dan membuatmu kembali tersenyum bangga seperti pada saat kau lahir menjadi bangsa yang merdeka!


    Nabilah


    SMA Negeri 1 Waled Kab. Cirebon - Jawa Barat


    Info lengkap lomba silakan klik di sini

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. sangat terharu gan bacanya.... miris...

      BalasHapus

    Item Reviewed: [Peserta Lomba Menulis Surat] Tak Sekokoh Dulu Rating: 5 Reviewed By: Jingga Media
    Scroll to Top