728x90 AdSpace


  • Terbaru

    Minggu, 08 Juni 2014

    [Surat Untuk Capres 2014] Suara Pedih Kejujuran

    Magetan, 07 Juni 2014


    Kepada


    Yth. Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia


    Di


    Tempat


    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


    Yang terhormat Bapak Calon Presiden Republik Indonesia, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terimakasih jika Bapak telah menyempatkan waktu membaca surat saya ini, di sela-sela pekerjaan Bapak membenahi Indonesia ini. Saya tidak menyangka akan adanya lomba Menulis Surat Kepada Calon Presiden Indonesia. Maka dari itu, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, karena dengan adanya kesempatan melalui lomba inilah, apa yang saya dan orang lain pendam pada akhirnya bisa terungkap.


    Di sini, saya adalah seorang pelajar SMA yang sangat prihatin sekali dengan mutu pendidikan negara yang saya cintai ini. Untuk sekolah manapun pasti tidak akan lepas dari masalah yang akan saya ceritakan.


    Bapak Jokowi, Bapak Yusuf, Bapak Prabowo, dan Bapak Hatta, sudah menjadi konsumsi umum bahwa penurunan kualitas terjadi di bidang pendidikan. Di sini saya ingin bercerita sedikit mengenai apa yang saya alami.


    Sekarang saya duduk di bangku kelas XI SMA dan sebentar lagi saya akan duduk di bangku kelas XII SMA. Saya merasa khawatir apa yang akan saya perbuat jika saya menghadapi ujian nasional, karena setiap saya melaksanakan ulangan, entah itu ulangan harian, ulangan tengah semester, ataupun ulangan semester, saya selalu berjuang sendiri. Sedangkan saya lihat teman-teman saya mengerjakan dengan cara yang tidak jujur, apalagi didukung dengan kecanggihan teknologi. Ponsel sekarang disalahgunakan untuk kepentingan yang tidak seharusnya, seperti membagikan jawaban melalui jejaring sosial yang sekarangpun mudah untuk diakses.


    Saya harus selalu merasakan pahit jika melihat orang yang tidak jujur lebih unggul daripada saya. Saya yakin mereka tidak mengetahui perjuangan saya yang harus belajar mati-matian disaat ulangan ataupun disaat tidak ulangan.


    Disaat mereka merasakan indahnya nilai-nilai yang mendekati sempurna, saya harus rela mengulang kembali. Saya mencoba menguatkan diri saya, “Jika kamu mengulang, itu bukan karena kamu buruk, tetapi membuatmu semakin mengerti materi tersebut,” kalimat itulah yang selalu menguatkan saya.


    Bapak Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, saya yakin bahwa Bapak tidak akan menutup mata dengan kondisi seperti ini. Terkadang saya ingin menyerah dari bersikap jujur, karena tergiur dengan nilai-nilai seperti yang teman saya dapat. Tapi saya ingat sebuah perkataan dari seorang motivator, “Apakah kamu ingin dididik oleh Tuhan, sekalipun melalui jalan yang sulit?” kalimat itulah yang membuat saya tidak menyerah. Jika saya ingin menyerah saya menguatkan diri saya dengan selalu mengingat Allah SWT. Saya percaya bahwa Allah SWT itu ada, tidak tidur, Maha Melihat, dan Yang Maha Bijaksana.


    Tidak jarang saya menumpahkan semua yang saya alami kepada ibu saya. Namun, beliau selalu berkata, “Kamu harus tahu kalau kamu berjuang sendiri, tidak seperti teman-teman kamu, jadi perjuangan kamu harus lebih besar daripada mereka.” Terkadang saya merasa kecewa karena ibu saya tidak mengerti apa yang saya alami, tapi saya sadar, memang seperti ini keadaannya dan saya tidak bisa mengubah ini selain menjalaninya dengan terus berusaha.


    Bapak Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, saya mengenal seorang teman. Di saat ujian nasional, dia berusaha mengerjakan soal ujiannya sendiri di tengah teman-temannya yang tidak perlu repot-repot belajar keras. Hasilnya sungguh mencengangkan, nilai teman dan temannya yang pintar dalam keseharianpun kalah dengan orang yang biasa-biasa dalam kesehariannya. Sungguh, saya sangat prihatin dengan apa yang terjadi. Jadi yang bisa saya lakukan hanya menghiburnya, menguatkannya dan saya sangat menghargai tindakan kejujuran yang sangat berani tersebut. Saya sangat bingung apa yang harus saya lakukan jika belajar mati-matian masih bisa dikalahkan dengan kecurangan. Saya ingin, kelak saya berani mengambil jalan kejujuran dengan resiko tersebut.


    Bapak Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, saya punya mimpi untuk bisa bersekolah tinggi agar menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi generasi penerus bangsa. Tapi pada suatu hari saya tidak ingin menjadi generasi penerus bangsa. Seorang teman menyadarkan saya, dia berkata, “Pelurus bangsa bukan penerus bangsa. Bangsa sudah rusak, kok masih diteruskan,” itu kalimat yang terlontar dari teman saya. Kini saya bertekad, jika saya diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menjadi orang yang berguna bagi bangsa Indonesia ini, saya tidak ingin menjadi penerus bangsa tapi pelurus bangsa.


    Saya berharap hal ini menjadi salah satu tugas yang tidak dianggap remeh oleh Bapak Calon Presiden dan Bapak Wakil Presiden dalam membenahi Indonesia, karena jika seperti ini terus mutu pendidikan Indonesia akan semakin rendah dan sumber daya manusia Indonesia tidak akan pernah bisa berkembang untuk mengolah kekayaan alam di Indonesia, dan selanjutnya kita akan terus diajajah. Tapi sebelum membenahi pendidikan Indonesia, hal dasar yang perlu dibenahi adalah mental bangsa Indonesia, seperti mental untuk jujur, mental untuk tidak korupsi, dan lain sebagainya. Mungkin hanya itu yang dapat saya sampaikan. Terimakasih.


    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.



    Hormat saya,



    ATIYA THIFAL ROFIFA


    Siswi SMA Negeri 1 Magetan Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: [Surat Untuk Capres 2014] Suara Pedih Kejujuran Rating: 5 Reviewed By: Jingga Media
    Scroll to Top