728x90 AdSpace


  • Terbaru

    Senin, 10 Agustus 2015

    [Peserta Lomba Menulis Surat] Harapan Akan Pidato Pertama Presiden

    Kepada :

    Yth. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo


    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Salam sejahtera saya sampaikan kepada Pak Presiden Republik Indonesia kita, Joko Widodo dan keluarga. Di tengah kesibukan bapak mengurusi negara, kiranya bapak meluangkan waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan surat ini. Kalau boleh, hendaknya bapak menyimak sepucuk surat dari seorang pemuda negeri, yang mungkin isinya sama dengan apa yang dirasakan rakyat di negeri yang anda pimpin. Boleh saya bercerita, ya Pak?

    Tak terasa, sudah 70 tahun bangsa Indonesia merdeka. 70 tahun merupakan umur yang cukup tua untuk sebuah negara. Tengoklah negara tetangga kita, yang umurnya lebih muda namun telah jauh meninggalkan kita dalam hal kemakmuran. Selama 70 tahun ini, bangsa kita terus membangun. Bangsa kita masih terus berbenah diri, menambal lubang-lubang dan membalut luka-luka. Derap pembangunan negeri juga terus digaungkan oleh pemerintah, demi menyongsong masa depan.

    Pak, saya juga mendengar bahwa bapak akan berpidato, pidato kenegaraan pertama bapak sebagai Presiden RI, pada tanggal 15 Agustus nanti. Bapak akan berbicara di hadapan ratusan juta rakyat Indonesia yang bapak nahkodai. Di hadapan banyak penduduk miskin yang masih harus berjibaku demi menyambung hidup. Di muka para pedagang kecil, nelayan-nelayan basah, petani-petani penuh lumpur, dan buruh-buruh lusuh yang tinggal di pelosok negeri. Semoga, bapak dapat mengeluarkan sebuah kata-kata brilian, yang mampu menjawab semua pertanyaan di benak mereka. Semoga juga, pidato bapak nanti dapat menjadi air pembasuh nurani mereka yang penuh luka, bukan sekadar pidato formalitas biasa.

    Beberapa tahun belakangan, presiden terdahulu menggunakan pidato sebagai sarana mempercantik diri. Beribu kata-kata manis, dengan ditambah statistik-statistik yang baik-baik, menjadi gincu politik presiden dahulu. Awalnya, rakyat kita terbuai olehnya. Himpunan data-data manis itu, yang menyatakan bahwa kemiskinan berkurang, bahwa rakyat semakin makmur, pendidikan semakin merata, hukum semakin adil, mampu menyihir rakyat masuk ke dalam mimpi. Mimpi-mimpi manis, seperti sebuah lirik lagu, yang meracuni pikiran rakyat. Namun, beberapa warga (aktivis) yang kritis, mulai berteriak nyaring. Mereka berusaha menghancurkan sebuah ilusi buatan pemerintah yang telah menyekap rakyat.

    Mereka mematahkan statistik-statistik manis itu dengan cuplikan realitas sebenarnya. Rakyat miskin tidaklah berkurang, kemakmuran masih barang yang langka di negeri ini, pendidikan timpang sana-sana sini, dan wajah hukum kita penuh coreng-moreng ketidakadilan. Miris pak. Apa para penguasa kita dahulu tidak melihat kenyataan, sebelum mencuplik sebuah data? Apa mereka tidak punya rasa malu pada rakyat saat keadaan lapangan tak sejalan dengan informasi pusat? Ah, pak. Saya harap bapak tidak melakukan seperti ini. Saya harap, bapak tidak seperti pendahulu bapak, yang menjadikan pidato penuh dengan tipu daya. Saya harap, pidato bapak lain daripada yang lain.

    Tak perlu berbasa-basi dalam pidato nanti, Pak. Kami sudah muak dengan basa-basi politik yang dilakukan kalangan elit di atas sana. Tak usahlah bapak kutip statistik-statistik yang kiranya akan menjadi perdebatan. Rakyat sudah semakin cerdas dalam menganalisis situasi negeri ini. Bapak juga tak perlu berbohong, mengatakan bahwa Indonesia sudah makmur dan damai. Kami sudah kenyang makan kata-kata manis dari para calon legislatif, yang nanti kalau terpilih, toh pasti akan segera hilang rimbanya.

    Alangkah baiknya bapak memaparkan keadaan bangsa sebenarnya. Pemerintah ingin dipercaya rakyatnya, sebaliknya juga rakyat. Selipkan kata-kata yang penuh optimisme bagi rakyat bapak yang sudah semakin pasrah dengan keadaan. Percikkan api semangat para rakyat, yang nantinya tentu akan sangat membantu Pak Jokowi dalam membangun negeri. Jikalau bapak berhasil dalam pidato kali ini, maka bapak akan merasakan perubahan dalam gairah hidup masyarakat.

    Bung Karno dahulu saja dapat menghidupkan perlawanan dan nasionalisme se-antero negeri hanya dari pidato singkat di Lapangan Ikada. Apalagi seorang Presiden Indonesia sekarang, yang "lapangan Ikada"-nya menjelma menjadi satu Nusantara. Dahulu, suara-suara lantang Bung Karno hanya bisa didengarkan segelintir orang. Lain halnya dengan bapak, yang akan mudah ditonton di berbagai daerah, mulai daerah warung kecil di desa sampai dengan lantai tertinggi di gedung DPR. Saya sangat optimis, bapak akan memberikan sebuah nuansa baru dalam pidato kali ini.

    Demikian surat ini disampaikan. Maafkan jikalau ada beberapa kata yang kurang berkenan bagi bapak. Semoga, benih-benih inspirasi dapat bapak ambil dari surat ini. Bapaklah yang menjadi ujung tombak perubahan negeri. Bapak juga yang akan dipercayai oleh rakyat tuk membawa negeri ini ke arah lebih baik. Saya percaya, Pak. Kami semua percaya!

    Wa’alaikumussalam Wr.Wb.


    Dari

    Seorang Pemuda Negeri,


    Erald David Sibatuara

    Siswa SMAN 1 Gresik Provinsi Jawa Timur
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: [Peserta Lomba Menulis Surat] Harapan Akan Pidato Pertama Presiden Rating: 5 Reviewed By: Jingga Media
    Scroll to Top