728x90 AdSpace


  • Terbaru

    Selasa, 11 Agustus 2015

    [Peserta Lomba Menulis Surat] Kepada Ibu Pertiwi

    Kepada,

    Ibu Pertiwi


    Hai, ibu. Apa kabar ibu? Anak mu ini sehat selalu. Oh, dan jutaan anakmu yang lain pula juga baik-baik saja, kuharap. Aku tak mungkin tahu semua kabar mereka karena banyak diantara kami terpisah jarak dan waktu. Tapi jangan khawatir, ibu, kami pasti akan baik-baik saja.

    Aku disini sedang belajar. Beberapa waktu lagi aku kan meninggalkan ibu, pergi ke tempat nun jauh disana. Tidak mengapa, kan? aku telah mempersiapkan segala hal dengan maksimal. Aku ingin jadi salah satu orang yang turut membalas jasamu, ibu. Aku ingin berbakti. Aku tak tahan melihat banyak kerusakan yang membuat hatimu pedih. Ingin aku merangkulmu, ibu, membuatmu jadi ibu terbaik diantara bangsa lain yang turut bersaing ditengah dunia kejam. Aku tak sanggup menahan air mata ku saat kudengar lara duka mu karena anak-anak mu yang semakin melarat. Tidak, maksudku,..... kami baik-baik saja, tapi......

    Ah, aku tak bisa berbohong padamu, ibu. Kami tidak dalam kondisi baik. Kami sakit, kami rapuh, kami lelah, kami kesepian. Kami ingin dibimbing, ibu. Namun sayang nya tak ada yang melirik mata pada sebagian dari kami karena kami tak punya benda yang terbuat dari kertas bernama uang. Kami mengais tanah, ibu, kami memohon pada Tuhan agar bumi berbaik hati mengeluarkan segala tumbuh-tumbuhan hijaunya. Tapi apa daya kami, yang kami punya sekali lagi hanya seorang diri dan baju compang-camping meminta belas kasihan.

    Kami tak ingin membuat mu khawatir, ibu. Maafkan kami. Kami janji akan membuat diri kami baik-baik saja. Atau bahkan lebih baik, mungkin? Jangan merintih lagi, jangan menangis lagi. Berhenti memikirkan segala porak-poranda di bumi ini. Berhenti meratapi hal kotor, nista, dan tidak terpuji yang diperbuat oleh orang-orang tanpa rasa tanggung jawab. Mereka tak mencintai mu, ibu, tak sedikit pun. Mereka cuma golongan orang-orang egois dengan mata berbinar bila melihat harta gemilang.

    Mungkin kau merasa kesal, ibu. Ya, aku juga kesal. Oh, atau tepatnya amat murka. Wajahku kadang diliputi muram duraja, sehingga tak sering aku tersenyum padamu. Maafkan aku, ibu. Aku sering mengabaikan mu, mencerca mu, dan membuatmu kecewa. Namun ketahuilah, ibu, semua kulakukan untukmu. Untuk kita. Untuk seluruh anakmu, yang merupakan saudara ku pula. Aku janji takkan mengulaingi lagi. Aku sadar, sebagai anak, aku seperti mutiara dalam samudra terdalam mu. Engkau bersusah payah menghadirkan ku sebagai sosok nyata untuk memperjuangkan dirimu dan dunia ini. Terima kasih, ibu, telah memberiku segala keindahan yang kadang luput dari pikiranku. Aku janji, suatu saat aku kan membawa mu pada kehidupan yang lebih baik. Doakan kami, ibu. Dan doamu lah, hal terhebat yang pernah kami terima. Dan hanya dengan doa mu lah, kami akan menggapai semua tujuan dalam langkah kami.

    Dan yang terakhir, ibu, jangan lah engkau risau. Jangan khawatir. Kami baik-baik saja,.... kami akan selalu menjaga diri. Kami akan baik-baik saja....

    Selamat ulang tahun yang ke-70, ibu.

    Dari anakmu,

    Aisyah Nurcholish

    Siswi SMA-Pesantren Persatuan Islam 69 Matraman Provinsi DKI Jakarta





    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: [Peserta Lomba Menulis Surat] Kepada Ibu Pertiwi Rating: 5 Reviewed By: Jingga Media
    Scroll to Top