728x90 AdSpace


  • Terbaru

    Rabu, 12 Agustus 2015

    [Peserta Lomba Menulis Surat] Kisah Dari Pulau yang Dianaktirikan

    70 tahun bukanlah usia yang muda lagi. Semakin tua usia haruslah semakin dewasa. Sudah banyak perubahan yang terjadi di Indonesia ini sejak awal merdeka 1945 – 2015. 70 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dilalui. Sudah banyak gangguan dan hambatan yang mengancam keutuhan Indonesia, mulai dari Agresi Militer Belanda, penurunan paksa presiden Soeharto di bulan Mei 1998, percobaan pembunuhan presiden Soekarno, hingga kisruh pemilu 2014 kemarin hanya karena salah satu kandidat yang ngakunya berjiwa militer, jantan tidak dapat menerima kekalahan dengan lapang dada hingga hamper menyebabkan keributan di Indonesia. Memang Indonesia sudah banyak berubah tapi hanya sebatas pulau Jawa saja. Pulau lainnya? Boro – boro berubah, tersentuh saja tidak, jika tersentuh dari pemerintah pun pasti ada “tikus – tikus berdasi” yang menggerogoti  uluran tangan pemerintah pusat yang tidak seberapa itu. Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi apalagi Papua tidak mendapat di hati pemerintah Indonesia. Memang Di papua sana nanti kabarnya akan dibangun rel kereta api untuk memudahkan dalam proses pembangunan kedepannya. Tapi kita tidak tahu apakah nasib proyek itu akan seperti proyek hambalang yang dimakan “tikus” itu. Padalah jika menilik lebih jauh Indonesia dapat berkembang atau dapat hidup karena pulau – pulau yang tidak “terurus” itu. Emas,gas alam,minyak bumi,nikel,tembaga kita punya semua itu di Papua. Namun apa, bukannya diolah dan dikembangkan malah “dijual” ke negeri adidaya. Tentu saja itu kerugian besar bagi Indonesia, menyedihkan memang ketika kita memiliki Emas dan minyak bumi yang berlimpah tapi untuk sekedar makan,minum,tinggal pun masih banyak yang kesulitan. Saya memang orang Jakarta yang tinggal di pulau yang penuh kenikmatan, tapi kadang suka miris jika melihat pulau – pulau lain terutama daerah Indonesia bagian timur. Media hanya mengekspos keindahan alamnya saja tapi tidak dengan kesulitan – kesulitan dan susahnya hidup disana. Saya pernah mendengar teman saya yang pernah tinggal di Papua. Dia tidak tinggal di kota besar seperti Jayapura ataupun Wamena. Saya terkejut bagaimana harga 1 sak semen seharga lebih dari 1 juta Rupiah. Ya 1 Juta Rupiah. Katanya sih mahal di biaya akomodasi. Bagaimana tidak untuk mengantar kebutuhan kebutuhan bagi warganya saja menggunakan pesawat ataupun helicopter. Inilah yang harus dibenahi oleh pemerintah untuk menyediakan akomodasi yang menjangkau seluruh daerah di Papua, memang proyek pembangunan kereta di papua sedang dikerjakan tapi kereta biasanya hanya melalui kota – kota besar saja. Mungkin pemerintah dapat membuat terobosan dengan membuat jalan lintas Papua seperti yang sedang dikerjakan di Pulau Jawa. Selain itu program presiden Joko WIdodo yaitu tol laut kenapa sampai sekarang belum ada kelanjutannya? Mungkin itu juga merupakan solusi untuk meratakan pembangunan di Indonesia. Jika sudah seperti itu pantas juga Papua ingin memerdekan diri. Selain masalah itu infrakstruktur yang mendasar seperti listrik, air belum dapat terpenuhi di pulau – pulau luar Jawa, seperti di Tanjung Pinang atau Medan yang tergolong tidak jauh dari Ibukota. Disana bias terjadi pemadaman listrik 3x sehari, hal yang jarang kita temukan di pulau Jawa. Sedih rasanya jika melihat dari citra dunia, pulau jawa ketika malam terang benderang berbeda dengan saudaranya yang  jauh di timur sana yang gelap. Memang sedih menjadi yang ditirikan.  Maka dari itu bersyukurlah yang tinggal di Pulau Jawa. Apalagi di Papua yang nuh jauh disana? Yang ingin saya tekankan lebih lanjut adalah mengapa pulau luar Jawa (kecuali Bali yang memang wah) jarang diperhatikan? Padahal pasokan listrik, minyak, gas kita dapat dari pulau luar jawa. Yang lebih ironis adalah Kalimantan dan Sulawesi merupakan penghasil aspal, tapi jalanan disana masih dengan tanah bahkan cenderung lumpur dan rusak sedangkan kita? Apakah kita harus pindah ibukota dulu baru berubahlah nasib pulau pulau yang ditirikan itu? Tolonglah diperhatikan lagi untuk pemerintah pusat dan daerah, jangan mau enaknya sendiri pikirkan orang lain. Terutama untuk pemerintah daerah yang seakan menutup mata, telinga untuk masyarakatnya. Jika nanti saja pulau tersebut melepaskan diri dari Indonesia barulah menyesal teramat sangat, terutama Papua karena memang sangat butuh uluran tangan pemerintah kita. Memang benar kita baru akan merasakan kehilangan ketika kita sudah kehilangan. Itu saja baru dari segi infrastruktur dan pembangunan, bagaimana dengan pendidikan, kesejateraan, pelayanan social, wah ibarat langit dan bumi. Biarpun begitu saya tetap memuji bagaimana perkembangan yang terjadi, mulai dari bagaimana Indonesia Timur sudah mengenal internet (biarpun harganya selangit), sudah mulai cakap teknologi. Ya, biarpun belum maksimal tapi saya sangat menghargai kerja keras pemerintah Indonesia. Oleh sebab itu Pemerintah Indonesia harus terus kerja keras dalam meratakan pembangunan terutama sisi akomodasinya, seperti tol laut, tol lintas Sulawesi, lintas sumatera, lintas Papua pokoknya dimudahkan dan dimurahkan akomodasinya. Karena saya yakin jika akomodasi sudah bagus pembangunan akan merata dan kedepannya Indonesia akan semakin maju dan mungkin akan menjadi macan Asia. Akhir kata Dirgahayu Indonesia yang ke 70 semakin maju dan berkembang. Jaya terus laut, darat, dan air Indonesia.


    Raditya Yoga Bonaventura                        

    Siswa SMAN 109 Jakarta  Provinsi DKI Jakarta

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: [Peserta Lomba Menulis Surat] Kisah Dari Pulau yang Dianaktirikan Rating: 5 Reviewed By: Jingga Media
    Scroll to Top