728x90 AdSpace


  • Terbaru

    Kamis, 13 Agustus 2015

    [Peserta Lomba Menulis Surat] Surat untuk Menteri Pendidikan

    Kepada Bapak Menteri Pendidikan

    Apa kabar bapak menteri? Saya harap bapak dalam keadaan sehat dan baik-baik.

    Perkenalkan saya merupakan salah satu siswa dari sekolah menengah kejuruan di Kota Cimahi. Pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan kritik dan saran saya terhadap tenaga pengajar di negara kita, khususnya tenaga pengajar yang bergelar sebagai pegawai negeri sipil.

    Pendidikan, satu kata yang memiliki begitu banyak makna. Pendidikan adalah salah satu dari pondasi untuk membuat negara menjadi lebih baik. Karena dengan pendidikan, mutu dari sumber daya manusia akan meningkat, yang berdampak pada meningkatnya kualitas kompetensi yang dimilikinya untuk dapat berdaya saing. Kunci dari pendidikan yang baik adalah tenaga pengajar atau yang biasa dipanggil guru. Guru yang baik akan menghasilkan siswa/siswi yang baik pula.

    Sebenarnya pendidikan di Indonesia sudah cukup baik, cukup baik di beberapa daerah saja, itupun tidak merata, tidak merata dalam artian di suatu daerah belum tentu kualitas pendidikannya rata melainkan seperti gelombang sinusoida. Disamping tidak meratanya kualitas pendidikan, kurang kompetennya tenaga pengajar juga menjadi suatu isu permasalahan yang harus secepatnya dibenahi. Meski banyak yang telah dilakukan oleh pemerintah, tapi saya rasa usaha tersebut masih kurang dan terkesan kurang bersungguh-sungguh.

    Sering saya menjumpai guru yang melakukan tugasnya dengan berleha-leha bahkan cenderung tidak peduli terhadap tugasnya. Mereka tidak jarang hanya masuk ke kelas untuk memberi tugas saja tanpa pernah berdiskusi dengan siswa terkait materi pelajaran yangdipelajari, bahkan melakukan overview terhadap materi yang dipelajari saja tidak pernah. Jika sekali dua kali bisa dimaklumi, tapi jika sering kali apa layak mereka dipanggil guru?

    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah terkait kompetensi guru itu sendiri. Banyak guru yang kompetensinya saya rasa masih kurang. Tapi mereka tidak berusaha untuk meningkatkan kompetensi mereka. Bahkan parahnya ada waktu dimana siswa bertanya guru tidak dapat menjawab atau menjawab melantur, dan mereka rasanya acuh, tidak terpacu untuk belajar kembali.

    Selain beberapa yang telah saya paparkan sebelumnya ada hal yang harus benar-benar dicermati secara seksama. Hal tersebut adalah terkait moral seorang guru. Belakangan ini sangat sering terdengar berita sumbang tentang oknum guru yang melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap muridnya. Apakah itu yang disebut sebagai guru? Yang seperti itu sangatlah tidak layak dipanggil sebagai guru, bahkan dipanggil manusia saja tidak layak, karena sikap mereka lebih mendekati hewan ketimbang manusia. Yang membuat saya lebih heran mengapa mereka dapat lolos dari seleksi menjadi guru? Bukankah untuk menjadi guru, seseorang diharuskan melalui seleksi yang ketat?

    Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas guru adalah dengan adanya semacam penghargaan bagi guru berprestasi yang diselenggarakan setiap tahun. Dengan diberikan penghargaan itu diharapkan setiap guru untuk berkompetisi untuk menjadi guru berprestasi yang berefek pada meningkatnya kualitas dari para guru. Tapi menurut saya hal tersebut kurang efektif untuk meningkatkan kualitas guru, yang saya lihat dan alami sendiri guru-guru hanya sibuk berkompetisi untuk menjadi guru berprestasi tanpa memerhatikan muridnya. Karena waktu mereka tersita oleh urusan-urusanuntuk menjadi guru berprestasi. Kasarnya banyak guru yang menelantarkan murid mereka demi mendapat gelar guru berprestasi. Pada dasarnya yang kita butuhkan adalah guru yang berdedikasi bukan guru berprestasi.

    Sebenarnya tidak semua guru seperti yang saya paparkan sebelumnya. Banyak guru-guru berkualitas dan berdedikasi kepada negeri. Tapi banyaknya oknum guru yang tidak baik dalam menjalankan tugasnya membuat saya gerah.

    Hal terakhir yang ingin saya sampaikan adalah terkait guru honorer, saat ini banyak sekali guru honorer yang hanya mendapatkan gaji 300.000 rupiah perbulan, bahkan lebih parah banyak guru honorer yang tidak mendapatkan gaji mereka. Pemerintah seyogyanya lebih memerhatikan mereka, karena mereka merupakan guru yang sebenarnya yang mendedikasikan diri untuk pendidikan.

    Upaya untuk meningkatkan kualitas dari pendidikan di Indonesia adalah  dengan meningkatkan kualitas dari para guru, baik itu kualitas kompetensi yang dimilikinya maupun kualitas mental guru itu sendiri. Karena guru merupakan orang yang berperan penting untuk membentuk calon penerus bangsa yang baik. Cara untuk meningkatkan kualitas guru tersebut adalah dengan memperbaiki sistem dari perekrutan guru saat ini. Sehingga dengan sistem perekrutan yang sangat baik akan didapatkan pula guru-guru yang berkualitas.


    Vidi Milathul Faudzan

    Siswa SMK Negeri 1 Cimahi Provinsi Jawa Barat
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: [Peserta Lomba Menulis Surat] Surat untuk Menteri Pendidikan Rating: 5 Reviewed By: Jingga Media
    Scroll to Top