728x90 AdSpace


  • Terbaru

    Rabu, 12 Agustus 2015

    [Peserta Lomba Menulis Surat] Sutradara untuk Indonesia

    Tegal, 9 Agustus 2015

    Yang terhormat, Tanah Airku

    di Indonesia

    Selamat malam, Indonesia–engkau yang tak lama lagi akan memasuki kepala tujuh. Bagaimana kabarmu? Apakah segala sesuatunya berjalan dengan baik? Kabarku sendiri sangat baik. Aku tidak kekurangan sesuatu apapun, sejauh ini segalanya terasa normal–secara fisik.

    Terus terang saja, sebelumnya aku belum pernah menulis barang satu suratpun untukmu. Jangankan untuk Indonesia yang teramat luas, kepada keluargaku sendiri saja tidak kukirimi surat. Tentu saja, sebab aku dan keluargaku masih dalam satu atap, jarak kami terlalu dekat untuk saling bertukar amplop berisi tulisan tangan.

    Bagaimana denganmu, Indonesia? Aku mulai berpikir, apakah jarak kita terlalu jauh sehingga aku sampai harus menulis surat untukmu?

    Sudah enam belas setengah tahun aku tinggal di atas tanahmu, tanpa pernah sejengkal pun beranjak pergi. Namun aku tidak selama itu melihat perkembanganmu. Akal dan ingatanku baru benar-benar bekerja ketika aku mulai mengendus bangku sekolah, pertama kali di sebuah taman kanak-kanak.

    Kalau boleh jujur, melihat perkembanganmu seperti menonton sebuah serial drama. Aku duduk manis dan menikmatinya, sesekali berkomentar jika ada yang kurang pas menurutku. Aku tidak tahu di episode berapa serial drama ini akan berakhir, tapi seperti yang sudah-sudah, jika sebuah serial drama favoritku tamat, aku akan sedih dan bingung mencari tontonan lain.

    Sebaliknya, jika serial drama itu tidak terlalu mengesankan, aku akan langsung menghapusnya dari hard disk–dari memori.

    Aku ingin mengenal Indonesia lebih jauh. Kadang aku merasa buta di tanah tempatku pertama kali menangis. Aku ingin kau memberi kesan yang indah di benakku, Indonesia. Terkadang, aku tidak hanya ingin menjadi penonton. Aku ingin menjadi sutradaranya; aku ingin mengubah Indonesia.

    Umurku enam belas setengah tahun. Tahun kedua SMA-ku belum berjalan satu bulan, namun luka yang kudapat sudah tergores dalam. Dari semua hal tentang Indonesia yang bisa diubah, yang paling ingin kurenovasi adalah sistem pendidikannya.

    Aku tidak menyalahkan tokoh pendidikan, pahlawan pendidikan, atau para ilmuwan dan penemu yang telah membuat materi Fisika dan Matematikaku begitu banyak. Aku hanya terheran-heran dengan sistemnya. Bingung dengan pemikiran di balik sistem tersebut.

    Apakah pemikiran di balik sistem tersebut tidak mengenalmu, Indonesia? Perlukah “pemikiran” tersebut menulis surat juga untukmu–agar mengenalmu lebih baik?

    Sebuah pertanyaan untukmu, Indonesia: apakah kau pernah memendam iri pada negara lain? Di saat rakyatmu meneriakan harapan agar kau semaju mereka. Pernahkah?

    Indonesia. Mungkin tak banyak yang kuketahui tentangmu. Mungkin di sudutmu yang lain banyak juga yang sepertiku. Tapi aku tak pernah mendengar keluh kesahmu. Ketika kemiskinan merayap, kekeringan dan banjir silih berganti, koruptor berkompetisi, dan pelanggaran hak asasi tak terhindari, orang-orang mengeluhkan namamu.

    Aku pikir, semuanya bermula dari bawah. Dari bagaimana cara rakyat mengembangkanmu. Terlihat siapa yang seorang sutradara profesional, mana yang amatir, dan terhitung banyak yang tak layak.

    Semuanya berakar dari buku yang mereka baca dan apa yang mereka tulis. Indonesia, setiap kepala berlomba untuk menjadi sutradaramu. Dan dengan senang hati kau mempersilahkan mereka, tak peduli jika mereka akan merusak dan menurunkan rating serial dramamu.

    Aku sendiri tidak bisa berjanji aku akan menjadi sutradara yang baik. Tapi yang kujanjikan adalah, aku akan mencobanya. Semoga kelak kau akan bangga ketika namaku mengudara sebagai sutradara yang baik di bidang pendidikan. Restumu selalu kunantikan.

    Semangat untukmu, Indonesia. Semoga surat ini sampai kepadamu dan kau berkenan membalasnya–agar aku mengetahui kabarmu dengan jelas, dan kita bisa menjadi sahabat yang baik.

    Oh, benar. Saat ini malam hari. Jadi, selamat tidur, Indonesia. Tidak perlu mengharapkan atau memimpikan apa-apa. Tidurlah yang nyenyak. Lalu … terima kasih sudah bersedia membuang waktu berhargamu untuk membaca surat ini.


    Salam,

    Ainaya Azkabening

    Siswi SMAN 1 Kota Tegal Provinsi Jawa Tengah


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: [Peserta Lomba Menulis Surat] Sutradara untuk Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Jingga Media
    Scroll to Top