728x90 AdSpace


  • Terbaru

    Selasa, 11 Agustus 2015

    [Peserta Lomba Menulis Surat] Tuan Sejuta Kekayaan, Pemilik Sabangsampai Merauke

    Kepada Indonesiaku

    Selamat Malam Tuan Sejuta Kekayaan, Pemilik Sabang sampai Merauke

    Tidak se elok bukan malam-malam seperti ini berkirim surat seperti ini. Namun, Tuan pasti sibuk mendengarkan dan melihat bagaimana Nusantara begitu sibuknya di pagi sampai sorenya, bahkan malampun iya. Aku tau betul Tuan. Sampai saat ini, aku mau bercerita, kalaupun bisa ini bukanlah sebuah uneg-uneg. Sebuah ungkapan rahasia kita Tuan, kau tak keberatan bukan mendengarnya? Aku harap demikian.

    Sebelum adanya hal yang lebih membuat kritik akan aturan yang politik lakukan dan sekawannya, ada banyak di bawah politik bahkan bisa dibilang itu suatu hal yang amat dasar dari tatana mewah yang ada di jajaran kalangan atas politik. Mereka pengemis, anak-anak yang terlantar dan orangtua lanjut usia dan gelandang tanpa rumah. Pandangan awal atas kritik hukum sekiranya seperti itu.

    Tuan tau yang namanya pilu kan, nah aku disini merasakan demikian itu. Apakah kau pernah merasa Nusantara yang katanya berbeda tapi satu, tidaklah kenyataan? Kalau boleh aku berpendapat, masih banyak anak tergelandang  atau seperti yang aku sebut tadi tidak mempunyai pengawasan ataupun perlindungan yang layak seperti wajarnya anak-anak. Tidakkah hati ini tergores jika melihat itu semua? Pastinya Tuan. Mereka anak-anak dan orangtua yang sekiranya sudah berkepala enam atau lebih, mengemis dan mengulurkan tangan untuk membuat luluh hati pejalan atau pengendara demi sepeser bahkan kurang untuk uang. Pilu sekali Tuan. Mereka memakai baju compang-camping, berkulit hitam bercampur lumpur atau sejenisnya di telapak kaki, wajah mereka tidak terawat, tidak seperti para bangsawan atau saudagar yang tiap harinya menyempatkan melulur dan memanjakan apa saja yang mereka inginkan. Tidak Tuan. Para anak-anak yang mengemis itu tidak halnya seperti itu. Di banyak daerah pasti ada, namun semakin melihat demikian semakin tidak sanggup jika terkesan banyak jumlahnya.

    Mereka yang mengemis saja menunggu belas kasih jikapun ada. Jika tak ada, mereka tetap menunggu dengan mata penuh harap dari keinginan yang bisa dibilang layak. Mata mereka berkaca-kaca tangguh dengan semangat bertahan hidup. Tuan, mampukah kau membayangkan? Mereka kecil, mereka sudah lanjut usia, mereka butuh uluran tangan. Jumlah yang sewajarnya di kehidupan atas sangat banyak, begipula dengan kehidupan mereka yang sangat di bawah. Bahkan sesuap nasi pun harus bertaruh nyawa. Jika dibilang mereka warga yang sejahtera itu sama halnya berbohong. Banyak sekali pejabat yang membuat kata manis dengan salah satunya “sejahtera”, namun tidak dengan perbuatan mereka. Sama saja dan tidak menampakkah hasil yang sama dengan kata manis mereka, Janji akan mengayomi mereka yang tidak sanggup berusaha demi secuil makanan. Dan mereka yang setingkat lebih tinggi, membuat kata per kata yang lalu di masukkan dalam refisi Undang-Undang, disetujui namun tanpa alasan  yang jelas mereka lalai akan hal itu.

    Tuanku, hanya itu yang setidaknya ingin aku ungkapkan. Mungkin ini akan membuat kegundahan dan kepiluan hati ini agak meredam gundah. Andai mereka yang memberi janji paham  betul arti kesejahteraan di Tanah Airmu Tuan, mereka tidaklah akan mendapat guncangan yang luar biasa dari nitizen. Janji yang sudah terlanjur menghitam.


    Jepara , 10 Agustus 2015


    Ulfi Fardiatun Nasichah

    Siswi MA Mathalibul Huda Mlonggo Jepara Provinsi Jawa Tengah
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: [Peserta Lomba Menulis Surat] Tuan Sejuta Kekayaan, Pemilik Sabangsampai Merauke Rating: 5 Reviewed By: Jingga Media
    Scroll to Top